Selasa, 09 September 2008

antropomorfisme, kucing, dan ayam

Orang bilang, satu-satunya alasan mengapa manusia diberi kaki adalah.. Agar ia bisa makan dengan tangannya.. Jawaban konyol? Mungkin tapi terkadang sesuatu memang tidak terlihat sebagaimana mestinya.

Baru-baru ini saya membaca buku mengenai komunikasi. Salah satu bab dalam buku itu - satu-satunya bab yang saya baca - menggambarkan tentang bagaimana berkomunikasi dengan orang dengan latar budaya berbeda.. Perbedaan budaya, kata si penulis, kadang membuat ekspresi-ekspresi nonverbal menjadi berbeda arti. Saat menonton liga italia misalnya kita sering melihat ekspresi nonverbal yang khas saat pemain-pemain protes pada wasit, di liga indonesia, ekspresi seperti itu digunakan oleh para pengemis di luar stadion untuk meminta makan pada para penonton.

Mengacungkan jempol tak selalu berarti memuji, namun mengacungkan jari tengah tampaknya diterima secara global sebagai penghinaan.

Lalu bagaimana dengan hewan..? Hewan tidak berkomunikasi dengan kita dengan bahasa verbal, kita hanya mengandalkan isyarat-isyarat nonverbal dalam berkomunikasi dengan hewan. Dalam menafsirkan gestur nonverbal hewan kita mengenal istilah "antropomorfisme".

Antropomorfisme adalah hal yang membuat kita mengira bahwa kucing lebih sering menyebrang jalan, lain halnya dengan ayam, mengapa? Karena antropomorfisme menganalogikan tingkah laku hewan dan tabiatnya sesuai perilaku dan tabiat manusia.

kita bilang anjing yang menjulurkan lidah sedang haus, atau burung yang bernyanyi berarti senang, sama seperti manusia. Bahkan kucing pun jarang menyebrang jalanan.

Nyatanya kucing yang menyebrang jalan cenderung bersikap angkuh.. Kucing seperti mamalia pemalas lainnya (seperti manusia) memiliki kesadaran akan dirinya. Saat menyebrang jalan kucing akan bertindak seenaknya saja, ia telah mempelajari suatu fakta dimana pengemudi kendaraan bermotor akan lebih segan untuk menabrak kucing daripada menabrak manusia, apalagi ayam... Perhatikanlah dimana banyak terjadi kasus tabrak lari terhadap (manusia) pejalan kaki, namun tak ada kasus tabrak lari terhadap kucing.

Saat menabrak orang banyak pengemudi langsung tancap gas dan membiarkan korbannya, bahkan mereka tak memastikan dulu apakah sang korban telah benar-benar mati dengan baik atau tidak. Namun saat menabrak kucing para pengemudi dengan sopan turun dari kendaraannya, lalu melakukan serangkaian hal agar si kucing setidaknya dikuburkan dengan baik...

Perilaku demikian membuat kucing menjadi angkuh saat menyebrang jalan. Bahkan kucing-kucing muda selalu mendongakkan kepala ke atas, mereka tak takut tersandung sesuatu lalu jatuh, karena sejarah memang mencatat tak pernah ada kucing yang jatuh karna tersandung atau terpeleset genangan air.

Kucing juga dikenal malas, menggeliat, tidur siang, bermalasan adalah tabiat kucing. Domestikasi yang telah diperbuat oleh manusia selama beberapa millenium telah membuat kucing menjadi malas. Kucing didomestikasi sejak jaman mesir kuno. Dan kucing selalu mendapat perlakuan spesial sejak saat itu. Saat Ramses II memerintahkan untuk membunuhi semua anak laki-laki orang israel, ia tidak memerintahkan untuk membunuh anak kucing jantan asal israel, terlihat Ramses lebih menyayangi kucing ketimbang generasi harapan bangsa.. Cleopatra mencintai kucingnya, bahkan Batman tak tega membunuh Catwoman.

Lain lagi ceritanya dengan ayam, berbeda dengan kucing, ayam adalah unggas yang rajin, sama seperti unggas-unggas yang lain. Di indonesia ayam lebih rajin ketimbang manusia, orang yang mengenal sejarah (dengan kata lain orang tua dahulu) mengatakan jika seseorang tidak bangun pagi maka rejekinya akan dipatok ayam, hal ini mengisyaratkan bahwa ayam sangat rajin mencari rejeki. Di belahan barat orang mengatakan "early bird gets worm", burung yang bangun pagi akan mendapat cacing, burung yang bangun siang tak dapat cacing, pasti karena rejekinya telah dipatok ayam.

Ayam pun, seperti kucing telah didomestikasi secara bertahun-tahun, namun bukan sebagai peliharaan yang dimanjakan.. Ayam telah menjadi hewan yang dijadikan sapi perah bagi manusia, kita mengambil dagingnya dan telurnya untuk dimakan lalu bulunya kita gunakan untuk membersihkan debu. Bahkan ayam hitam sampai harus merelakan darahnya untuk hal-hal magis.

Saat menyebrang jalan ayam menjadi mawas diri dan jauh dari kesan angkuh, saat berjalan menyebrangi jalan ayam berjalan dengan mengangguk-angguk, sopan sekali.., ayam tampaknya sadar bahwa orang akan seenaknya saja menabrak ayam, jika tertabrak dan terluka orang justru tak akan mengobatinya, malah langsung menyembelihnya untuk dimakan.

Ayam juga tak mendapatkan perilaku istimewa seperti kucing, jika kucing sakit, pemiliknya akan membawanya ke dokter. Namun jika ayam sakit, seperti terserang flu misalnya, pemiliknya akan langsung membakarnya...

Kata "ayam" pun malangnya mengalami peyorasi saat digunakan untuk menyebut pelaku praktek-praktek prostitusi.

Namun ayam adalah mahluk yang sukses, tak ada yang mengenal pria berkumis dan berambut putih bernama Kolonel Sanders jika tidak karena ayam.. Ayam juga bertahan ditengah terpaan angin cobaan, ribuan bahkan jutaan mati karena epidemi flu, namun populasi ayam bertahan, ayam tak akan punah....

Itulah pemikiran antropomorfis saya tentang ayam dan kucing, semula tulisan ini diperuntukan untuk menjadi satir sosial yang menyentuh.. Siapakah anda? Kucing ataukah ayam?

Orang-orang penting kini berlaku seperti kucing-kucing, tidur siang laksana kucing, menggeliat bagai kucing, bermalasan seolah dirinya kucing, bahkan berbuat mesum tanpa malu-malu kucing. Ingin dimanjakan dan berharap bisa makan daging ayam..

Rakyat kecil terpaksa mengambil peran sebagai ayam, bekerja keras, dan jika sial dimakan pula oleh si kucing.

Cukup ya sindirannya.. Nah apakah anda kucing ataukah ayam.. Pikir sendiri ya..

0 komentar:

Posting Komentar