Jumat, 05 Juni 2009

Saya juga blogger lho!

Baru baru ini ada berita yang membuat saya sebagai blogger (kurang lebih lah) merasa tersentak. Seorang wanita bernama Prita ditangkap karena berkeluh kesah melalui surel (e mail).

Lalu pagi ini saya baca bahwa 80 ribu blogger mendukung pembebasan Prita, mereka mengharap agar pasal pencemaran nama Baik dalam UU ITE segera dihapus.

Melihat sesama blogger pada complain, toh saya pun mau ga mau ikut-ikutan complain. Mengapa saya ikut-ikutan complain? Karena hal itu didasarkan pemikiran saya yang mendalam:

Pertama, saya gemar ikut ikutan, saya dulu memiliki account Friendster karena ikut-ikutan, Lalu beralih FaceBook juga karena ikut-ikutan, punya surel juga awalnya karena ikut-ikutan, bahkan saya pun ikut-ikutan menggunakan kata surel alih-alih email. Tapi saya tidak menjadi blogger (apa iya ya?) karena ikut-ikutan. Saya jadi bloger karena terinspirasi oleh bloger lainnya yang lebih dahulu eksis, bukan pengen tenar atau pengen diundang oleh Jusuf Kalla. Apalagi pengen berdebat dengan Roy Suryo (saya ingin adu photoshop dengan dia bukan debat) padahal saya juga tahu lah dikit-dikit soal meta tag, spectrum analysis, winamp, winamp skin, winamp 3 winamp 5 dan teman-temannya, equalizer, K-lite codec, VLC, youtube, bahkan nama asli Miyabi, cukup lah buat modal debat ma dia.

Kedua, Keberanian, menentang kezhaliman perlu keberanian. Dan saya yakin kalau saya memilikinya (saat 80 ribu blogger lain sudah complain duluan). Dalam mendukung Prita ini bisa saja saya juga malah melanggar UU ITE dan dipenjarakan, namun saya ternyata bisa mempertahankan keberanian saya. Setelah menghitung-hitung kapasitas rutan se Indonesia, saya menyimpulkan bahwa Rutan Se Indonesia tak mampu menampung 80 ribu tahanan baru, polisi pun tak sanggup, Roy Suryo pun pasti akan kelelahan dan menyerah untuk berperan serta sebagai saksi ahli yang memberatkan saya. Lagian kalau pun bisa toh banyak teman (khas orang Indonesia, asal ada teman-teman sependeritaan dihukum pun tak apa). Blogger-blogger cukup vokal kok, dan 80 ribu suara cukup bisa diperhitungkan dalam pemilu presiden, ayolah pikirkan ini pak SBY!

Ketiga, Inilah hal yang paling LOGIS. Seperti yang anda tahu, selain menulis di blog saya juga aktif di beberapa komunitas online. Saya akui saya sering sekali mencela, menghina, mencemarkan nama baik, bahkan melakukan pembunuhan karakter di berbagai media online. Jadi menentang pasal itu dalam UU ITE adalah sangat logis bagi saya. Toh saya pun yakin banyak yang sebenarnya memiliki motivasi serupa dalam menentang UU ini. Terus terang saya tak tahu bunyi pasal merisaukan itu, saya kan hanya ikut-ikutan (baca: solider) dengan 80 ribu blogger lain, tapi ya bagaimanapun sedikit cemas tak ada salahnya kan?

Prita kini sudah bebas, Jaksa Agung pun kini mempertanyakan profesionalisme si Jaksa Penuntut, tapi rasanya tak cukup.

Selama pasal itu masih ada, kan bisa saja saya ditangkap segera setelah saya menulis sesuatu di wall teman saya di FaceBook. Saya kok jadi gamang....

Selasa, 02 Juni 2009

Social network & teknologi

catatan: sebagian dari isi tulisan ini telah saya tuangkan di sebuah group di FB, namun untuk penekanan yang berbeda.

Di blog ini telah berkali-kali saya ulangi bahwa para inventor terhebat sepanjang masa adalah para manusia purba. Mereka menemukan rasa malu, kemudian menciptakan pakaian, dari menjual pakaian mereka lalu menemukan ekonomi sederhana dan kemudian ekonomi menciptakan para pengangguran. Lalu para penganggur menemukan kalau diri mereka sebenarnya adalah para penemu yang hebat.

Di suatu masa di era semi sedenter (hidup agak menetap). Manusia purba menemukan suatu breaktrough dalam teknologi. Mereka berhasil menciptakan kemajuan teknologi yang sangat advance dan memukau. Teknologi itu adalah API.

Untunglah para penemu api sangat bijak dan baik hati, mereka tak mempatenkan api, namun menjadikannya suatu benda open source dengan public license. Source code bagaimana menyalakan api pun terpampang di dinding goa, sehingga siapapun dapat membuat kopian, mengembangkan, bahkan mengunggah perkembangan baru mengenai api.

Karena sifatnya yang open source itulah api menjadi cepat berkembang. Ada api besar, api kecil (micro) yang lembut (soft), api yang Unik, api sekam, bahkan bara api. Semuanya dengan fitur dan spek-nya yang berbeda-beda. Ada api untuk dinyalakan di atas meja batu (desktop) sampai api yang dapat dinyalakan pada sebatang kayu yang bisa digenggam (handheld) dan dapat dibawa ke mana-mana (mobile). Dalam waktu yang tak lama api pun telah dikembangkan menjadi beberapa versi yang berbeda. Para penemu purba pun mengemasnya dalam distro (versi distribusi) yang berbeda-beda. Ada distro yang memakan waktu dan proses yang lama dalam memasang (install) nya. Sampai api yang cukup di bakar (burn) sekali lalu bisa digunakan dengan instan dan hidup (live) di sesi (session) apapun.

Tapi tak lama orang menjadi bingung bagaimana memanfaatkan api. Pertama kali api digunakan untuk membuat perhitungan sekala besar dalam perang purba ke dua (jika goa gelap mereka tak bisa berhitung). Kala itu api yang digunakan sangat besar, memenuhi ruangan goa, dan para ilmuwan purba sering kali terganggu oleh serangga (bug) yang sering mengerumuni nyala api sehingga mereka harus sering menghilangkan serangga itu (de-bug).

Lalu api juga digunakan sebagai sebagai senjata untuk mengusir macan sabertooth dan berburu mastodon. Namun perkembangan api seakan berhenti sampai disini.

Ditengah kejenuhan, datanglah seorang periset purba cerdas. Mereka berpikir untuk mengembangkan api menjadi suatu hal yang sepele, namun digemari orang. Akhirnya mereka menemukan suatu kegunaan baru dari api, yaitu dinyalakan di tengah orang-orang yang sedang duduk berkerumun. Nah pada waktu itulah orang-orang tahu kalau api bisa juga digunakan sebagai bukan senjata. Api itu diberi nama sebagai api unggun (gun = senjata, un-gun = bukan senjata).

Aktivitas duduk-duduk dan mengobrol di sekeliling api unggun lantas menjadi suatu aktivitas yang sangat populer. Kemudian sejarah mencatat bahwa duduk berkerumun di sekeliling api unggun adalah jejaring sosial tertua di dunia.

Seperti jejaring sosial yang lebih modern, di sekeliling api unggun para manusia purba bisa bertukar komentar, bertukar kesan, mencolek teman (poke), memperlihatkan gambar-gambar, berkenalan dengan teman baru dan menambah teman (add as a friend), dan bahkan menulis di dinding (wall) goa. Siapapun bisa menulis apapun di dinding, lalu siapa saja bisa mengomentari tulisan itu.

Kini duduk-duduk di sekitar api unggun sangat populer. Kalau tak melakukannya bisa-bisa dianggap ketinggalan jaman. Banyak dari para manusia purba yang lantas benar-benar terikat dengan api unggun, banyak dari mereka yang setiap selang beberapa menit menulis update status mereka di dinding goa, sampai siapapun jadi tau apa yang mereka lakukan.

Tapi beberapa lainnya juga mulai jengah, mereka bosan melihat dinding goa yang tercorat-coret oleh update teman-teman mereka, banyak tulisan-tulisan tak penting di dinding "sedang mules2.." lah, tak lama dicoret dan diganti "mo buang air dulu", tak lama diganti "ahh lega biarpun keras"... Benar-benar tak penting.

Lalu ada lagi yang suka ribut-ribut di dinding goa, menulis panjang lebar dan balas membalas. Hei dinding goa kan ruang publik! Buat apa saling membalas di dinding goa kalau kedua orang yang ribut itu sebenarnya ada di samping api unggun, mereka kan bisa mengobrol langsung, toh api unggun pun bisa dipakai untuk mengobrol (chat).

Kini api unggun memang menjadi fenomena yang tak ada duanya. Tapi di tengah popularitas nya yang sedang naik daun. Sekelompok orang melarang penggunaan api unggun, haram katanya. Orang-orang itu adalah tokoh-tokoh animisme dan dinamisme dari bagian timur.

Tak ayal pro dan kontra pun terjadi. Banyak yang tak mau terima kalau api unggun adalah haram. Apa alasannya katanya? Kan api unggun hanya sebuah sarana pertemanan? Namun orang-orang yang mengharamkan pun sama ngototnya. Konon api unggun adalah media yang bisa memancing hal buruk, kita bisa terbakar kalu dekat-dekat api, ah entahlah. Pakar di bidang ini pun segera angkat bicara, padahal dia sedang memeriksa apakah gambar relif wanita telanjang di goa di sangiran adalah rekayasa atau bukan, dan siapa yang menyebarkannya.

Banyak pengguna api unggun yang lantas berkata "itu kan tergantung bagaimana orangnya..", "tergantung bagaimana mereka menggunakannya...". Yah begitulah.

Yang jelas api unggun adalah jejaring sosial paling populer pada masa purba ini. Tertarik untuk bergabung?

Minggu, 08 Maret 2009

Hati-Hati Hoax

PENTING!!! Sebaiknya anda membaca artikel ini demi keselamatan diri anda sendiri!!!

Saya tidak tahu apakah anda telah membaca beritanya atau belum di media massa ataupun di berbagai rujukan online yang bisa anda akses. Namun fenomena yang sedang berkembang ini sangat berbahaya dan menyesatkan!

Kejadian ini terjadi di Suatu kawasan di Jabodetabek (demi kemaslahatan para korban detail mengenai tempat ini dirahasiakan). Kabar mengenai kejadian ini memang merebak beberapa bulan terakhir, khususnya setelah kabarnya tersiar di dunia maya.

Akhir tahun lalu, beberapa orang mahasiswa di universitas negeri terkemuka di jakarta mengalami disorientasi mental dan sosial setelah mereka mengakses suatu situs internet tertentu. Disorientasi itu timbul segera setelah mereka terpengeruh secara mental oleh situs internet tersebut. Gejalanya adalah mereka seketika tertawa terbahak dan terkadang sedikit bingung dengan informasi.

Menindaklanjuti kejadian tersebut seorang blogger dari UI mencoba melakukan content analysis terhadap situs bersangkutan yang konon telah memakan banyak korban. Content analysis yang dilakukan terhadap materi situs itu konon sedikit banyak telah memperlihatkan kerangka berpikir cognitive yang koheren dari situs tersebut.

Para pembaca yang kemudian mengalami disorientasi tersebut diperkirakan tertarik dengan indeferensitas orientasi cognitive yang dapat diderivasikan dari linearitas mindset si penyusun situs. Sehingga seperti digambarkan dalam teori Elaborative Likelihood Model, si penyimak situs menjadi ter-elaborate dengan content situs lalu menjadi termotivasi untuk memproses pesan dan menjadi terkotakkan dengan mindset penulis.

Ringkasnya mereka mengalami orientasi karena mengalami initial attitide changes dalam mindset mereka yang disebabkan oleh hoax dalam situs tersebut.

Kini situs tersebut masih ada dan belum di banned. Depkominfo pun tak mampu berbuat apapun. Korban hoax situs itu pun bertambah, tak hanya mahasiswa namun konon seorang pengusaha percetakan, seorang pegawai bank mandiri, dan bahkan seorang staff NGO asing pun telah menjadi korban.

Nah blog kami akan membantu anda agar tak termakan kejadian serupa. Agar tak tertipu oleh hoax seperti pada situs yang kami beritakan.

Nah untuk terhindar dari disorientasi hoax anda perlu mengetahui ciri-ciri dari hoax, ciri-ciri itu antara lain:


1. Memuat kata "Penting! Anda harus membacanya" pada awal artikel dan diakhiri dengan "sebarkan ke teman-teman anda"

2. Mengatakan "berita ini terjadi di kawasan xxx" namun tak merinci dimana kawasan itu sebenarnya dengan alasan kerahasiaan.

3. Penjelasannya ilmiah atau rumit, dengan kata-kata yang terdengar canggih dan hiperbolis.

4. Tidak ada rujukan pasti mengenai sumber berita. Hoax dapat mengatasnamakan lembaga-lembaga, misal universitas, sehingga dapat memperkuat argumennya.

5. Korban yang tak jelas, hoax sering memaparkan : korban adalah mahasiswa di universitas x, atau korban adalah pegawai yayasan Y.

6. Ajakan untuk menyebarkan pesan dengan "reward & punishment", misal: jika disebarkan anda akan bahagia, jika tidak anda akan mandul tujuh turunan.

Nah, begitulah ciri-ciri bahwa suatu artikel adalah hoax atau bukan, ingatlah keselamatan anda dan teman-teman anda adalah yang utama. Maka segera copy paste artikel ini ke email anda lalu kirimkan ke sepuluh teman terdekat anda, dengan demikian anda telah menyelamatkan teman-teman anda dari hoax, namun jika anda menyimpan informasi ini sendiri dan tak menyebarkannya maka anda adalah orang yang egois. Niscaya anda pun akan mendapat azab-Nya.